Dulu, sebelum mengenal cinta pertama ibu selalu menasehatiku sepulang bermain dari lapangan samping rumah tempat bermain anak-anak kecil. '' sin,jangan terlalu galak kepada laki-laki apalagi suka cetus kalo bermain sama mereka, nanti kalo dihajar bagimana toh nanti kalo uda nikah hidupmu sama laki, jangan galak nanti gak ada yang mau deketin" lambat laun kebiasaan itu mulai berani aku rubah sedikit demi sedikit sikap seperti apa yang dikatakan ibu. Tanpa disadari ternyata hal itu mengubah karakter da sifatku sehingga mengantarkanku untuk mulai mengenal cinta. bertemu seseorang laki-laki dewasa yang terpaut jauh umurnya, tanpa dirasa kita memulai hubungan hampir 10 tahun dan terpisah karena beberapa faktor.
Dari kehidpan yang semulanya dikontrol dan didik layaknya calon istri yang tertanam sifat patriarki ala desa. Berubah seiring waktu menjadi wanita yang harus bisa mengatur mindset dan ettitude ala kehidupan liberal. Hal yang sangat kontras aku jalani selama proses pencarian cinta dan jati diri. Tidak masalah menurutku. Yang menjadi masalah adalah nilai ketulusan yang harus aku adaptasikan dengan nilai yang selama ini aku dapatkan berlawanan.
Ternyata keduanya tidak membuahkan hasil yang jelas dan pasti. Harapan dan Keputusan orang tua yang mulai renta, cinta yang bak permainan dadu, kehidupan stigma masyarakat membuat aku harus memenuhi isi kepala diusia muda. Bolehkah aku menyangkal bahwa keinginan orang tua adalah hal yang sunah? Aturan di masyarakat hanyalah opsi dan cinta adalah ilusi?? Dari hal tersebut semakin membuatku yakin bahwa tidak masalah jika hidup independen, dan kesekian kalinya aku yakin bahwa aku tidak perlu dengan siapa-siapa.
ketulusan tidak akan mengajarimu buah hasil kehidupan yang indah melainkan keikhlasan
Komentar
Posting Komentar